Minan Studi Lanjut Perguruan Tinggi

1.    Minat
a.    Pengertian Minat
Menurut Hurlock (Suherman : 59) mengatakan bahwa minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih. Minat berarti suatu dorongan yang memiliki kecenderungan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan diri sendiri ketika ada kesempatan untuk melakukan sesuatu tersebut. Masih dalam literature yang sama, Darwis dan Lofquist (Suherman :139) berpendapat bahwa minat (interest) berasal dari nilai dan kemampuan yang mengekspresikan hubungan kemampuan dan nilai. Dengan kata lain bahawa minat merupakan suatu nilai yang timbul karena kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh seseorang, sehingga nilai itu menjadi sebuah bentuk ekspresi sekaligus implementasi dari kemampuan-kemampuan tersebut. Mereka percaya bahwa inventori minat mampu untuk membantu siswa dalam penyesuaian dan perkembangan karirnya.
(Suryabrata : 30) menegaskan bahwa minat mempengaruhi proses dan hasil belajar, tak usah dipertanyakan. Ketika individu mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu yang dikerjakan, maka individu tersebut akan lebih bersemangat dalam menggeluti sesuatu yang ia minati. Tetapi sebaliknya jika individu kurang bahkan tidak berminat dengan sesuatu yang ia kerjakan, maka dalam proses mengerjakan sesuatu itu aka nada keterpaksaan dan tidak optimalnya individu tersbut dalam mengerjakan tugasnya yang pada akhirnya mendapatkan hasil yang tidak memuaskan dan mengecewakan.
(Nathan & Hill, 2012) beranggapan bahwa minat yaitu kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan rewarding (adalah salah satu kunci vital yang memotivasi seseorang. Kemampuan semata tidak banyak berguna tanpa minat yang adekuat untuk mendukungnya. Hal ini menunjukkan peran penting minat bagi seseorang yang ingin mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya, sehingga kemampuan yang dimilikinya menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan dalam kegiatan-kegiatan.
Sedangkan Menurut Crow dan Crow (Nurhidayati, 2006 : 12) bahwa minat atau interest bisa berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita untuk cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan, ataupun bisa berupa pengalaman yang efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Bisa dikatakan bahwa minat itu merupakan sumber dari motivasi yang mendorong individu untuk melakukan sesuatu dengan dasar ketertarikan pada orang, benda, kegiatan, ataupun dalam penelitian ini adalah ketertarikan yang dirangsang oleh popularitas jurusan pada perguruan tinggi  dan pekerjaan, serta ketertarikan karena memberikan kepuasan tersendiri, baik itu kepuasan ilmu, materi, maupun status social.
Dari beberapa pendapat mengenai pengertian minat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa minat adalah sumber motivasi yang berlatar belakang dari kemampuan yang dimiliki individu sehingga mampu mendorong individu  untuk menjadi tertarik dan melakukan suatu kegiatan yang diinginkan, dan dapat mempengaruhi proses dan hasil dari suatu kegiatan yang dilakukan. Apabila siswa sudah memahami sekaligus mempunyai minat untuk menentukan pilihan studi lanjut ke perguruan tinggi, maka ia akan dapat memilih studi lanjut ke perguruan tinggi yang sesuai dengan minatnya, sehingga siswa mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapai dan memilih minatnya tersebut dengan lebih konsentrasi dalam menyelesaikan studinya di sekolah menengah dan mempersiapkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi. Sebaliknya apabila siswa kurang memahami minat, maka minatnya menjadi rendah, lalu konsentrasi untuk menyelesaikan sekolah menengah menjadi terganggu, dan persiapan diri menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi pun menjadi buyar.
b.    Aspek-Aspek Minat
Menurut Hurlock (Nurhidayati, 2006 : 14 ) mengatakan bahwa minat memiliki dua aspek yaitu:

1)    Aspek kognitif
Aspek ini didasarkan atas konsep yang dikembangkan seseorang mengenai bidang yang berkaitan dengan minat. Konsep yang membangun aspek kognitif di dasarkan atas pengalaman dan apa yang dipelajari dari lingkungan.
2)    Aspek afektif
Aspek afektif ini adalah konsep yang membangun konsep kognitif dan dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan atau objek yang menimbulkan minat. Aspek ini mempunyai peranan yang besar dalam memotivasikan tindakan seseorang.

Berdasarkan uraian tersebut, maka minat terhadap studi lanjut ke perguruan tinggi bukan merupakan bawaan dari lahir. tetapi dipelajari melalui proses penilaian kognitif dan penilaian afektif seseorang yang dinyatakan dalam ketertarikan individu terhadap sesuatu, baik itu benda, kegiatan, maupun pekerjaan, dalam hal ini adalah ketertarikannya terhadap studi lanjut ke perguruan tinggi yang dipengaruhi oleh ketertarikan terhadap kesuksesan, popularitas, bahkan sebagai gaya hidup.
2.    Studi Lanjut

3.    Perguruan Tinggi
a.    Pengertian Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi atau pendidikan tinggi, di dalam Undang-Undang (UU) RI No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) pasal 19 menyatakan bahwa pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doctor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi. Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pendapat lain dari Hinkelman dan Luzzo (Gladding, 2012 : 498) menyatakan bahwa perguruan tinggi menandai dimulainya peningkatan kebebasan, pengambilan keputusan, serta pengaturan pergeseran peran.  Seiring dengan hal ini, memang di dalam perguruan tinggi selain cara belajarnya yang sudah mulai mandiri, pada perguruan tinggi juga sudah mulai ada tuntutan sebagai peran individu yang dewasa yang mampu untuk mengambil keputusan yang mampu dipertanggung jawabkan.
Dari beberapa definisi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa perguruan tinggi merupakan jenjang pendidikan pendidikan menengah yang peserta didiknya disebut sebagai mahasiswa, berasal dari berbagai latar belakang suku, budaya, agama, etnik, dan lain-lain untuk mengikuti kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sehingga mampu menjadi individu yang mandiri dan bertanggung jawab.
b.    Bentuk-Bentuk Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi atau pendidikan tinggi, di dalam Undang-Undang (UU) RI No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) pasal 20 menyatakan bahwa perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institute, atau universitas.
1)    Akademi
Akademi hanya menyelenggarakan satu program studi dan lebih menekankan pada keterampilan praktik kerja dan kemampuan untuk mandiri. Umumnya, lama pendidikan di perguruan tinggi ini hanya 3 tahun. Di perguruan tinggi ini porsi praktik lebih besar daripada teori. Banyak akademi di indonesia berstatus kedinasan. Artinya akademi itu diselenggarakan oleh dinas pemerintah, misalnya Akademi Militer (Akmil), Akademi Ilmu Pemasyarakatan, dan Akademi Kepolisian (Akpol).
2)    Politeknik
Politeknik merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang bertujuan menyiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, serta menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sesuai tujuannya, politeknik memberikan pengalaman belajar berupa praktik dan latihan yang memadai. Di politeknik porsi praktik lebih besar daripada teori. Contoh politeknik antara lain Politeknik Kesehatan (Poltekes), Politeknik Manufaktur, Politeknik Ilmu Pelayaran, dan Politeknik Elektronika.
3)    Sekolah Tinggi
Sekolah Tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dalam lingkup satu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, atau seni. Jika memenuhi syarat, sekolah tinggi dapat menyelenggarakam pendidikan profesi. Sebagai contoh, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) memiliki program profesi spesialis ekonomi atau Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) khusus mengajarkan ilmu akuntansi.
4)    Institut
Institut berbeda dengan universitas yang mempunyai program studi beragam, institut berkonsentrasi pada satu bidang saja. Sebagai contoh, institut pertanian hanya mengkhususkan bidang pertanian saja, institut teknik hanya berkonsentrasi di bidang teknologi saja, atau institut seni berkutat di bidang seni saja. Meskipun demikian, institut juga mempunyai beberapa fakultas. Sebagai contoh institut pertanian mempunyai Fakultas Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan. Demikian juga dengan institut teknologi yang mempunyai fakultas yang berhubungan dengan teknik.
5)    Universitas
Universitas adalah lembaga pendidikan yang paling dikenal di indonesia. Lembaga ini didirikan dengan tujuan untuk mengarahkan lulusannya menjadi tenaga profesional siap kerja atau tenaga pendidikan serta peneliti. Universitas terdiri atas berbagai fakultas. Fakultas adalah bagian dari universitas yang mendidik mahasiswa dalam bidang tertentu. Sebagai contoh, Fakultas Kedokteran mendidik mahasiswanya dalam bidang kesehatan atau Fakultas Teknik mendidik mahasiswanya dalam bidang teknologi. Dalam sebuah fakultas terdapat beberapa jurusan, misalnya di Fakultas Teknik ada jurusan Teknik Arsitektur, Teknik Sipil, Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan teknik lainnya.

Referensi :
DEPDIKNAS. (2011). Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gladding, S. T. (2012). Konseling Profesi Yang Menyeluruh. Jakarta: Indeks.
Nathan, R., & Hill, L. (2012). Konseling Karir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Nurhidayati. (2006). Hubungan Antara Minat Dengan Prestasi Belajar Siswa Dalam Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: E-Book Skripsi.
Suryabrata, S. (1982). Psikologi Belajar. Jakarta.
Suherman, U. Konseling Karir Sepanjang Rentang Kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s