Mengatasi Sikap Agresi

klik link dibawah ini untuk download angket tingkat agresivitas
Angket Mengukur Tingkat Agresifitas
A. Pengertian agresi
Definisi dari Agresi menurut Myers 1966 merupakan Perilaku fisik / lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain. Agresif secara psikologis berarti cenderung (ingin) menyerang kepada sesuatu yang dipandang sebagai hal yang mengecewakan, menghalangi atau menghambat (KBBI: 1995: 12). Perilaku ini dapat membahayakan anak atau orang lain.
Tujuan utama dari pada agresi yang berlebih-lebihan adalah penguasaan situasi, mengatasi suatu rintangan atau halangan yang dihadapinya atau merusak suatu benda. Agresi tersebut dapat disalurkan melalui perbuatan, akan tetapi bila tingkah laku tersebut dihalangi, maka akan tersalur melalui perbuatan, akan tersalur melalui kata-kata dan pikiran.
Perilaku agresif dianggap sebagai suatu gangguan perilaku bila memenuhi persayaratan sebagai berikut .
1. Bentuk perilaku luar biasa, bukan hanya berbeda sedikit dari perilaku yang biasa. Misalnya, memukul itu termasuk perilaku yang biasa, tetapi bila setiap kali ungkapan tidak setuju dinyatakan dengan memukul, maka perilaku tersebut dapat diindikasikan sebagai perilaku agresif. Atau, bila memukulnya menggunakan alat yang tidak wajar, misalnya memukul dengan menggunakan tempat minum.
2. Masalah ini bersifat kronis, artinya perilaku ini bersifat menetap, terus-menerus, tidak menghilang dengan sendirinya.
3. Perilaku tidak dapat diterima karena tidak sesuai dengan norma sosial atau budaya.
B. Latar Belakang Perilaku Kasar (Agresif)
Dalam Surya (2004: 45 – 48) disebutkan bahwa factor pencetus anak suka berperilaku suka agresif, antara lain:
1. Anak merasa kurang diperhatikan atau merasa terabaikan.
2. Anak selalu merasa tertekan, karena selalu mendapat perlakuan kasar.
3. Anak kurang merasa dihargai atau disepelekan.
4. Tumbuhnya rasa iri hati anak.
5. Sikap agresif merupakan cara berkomunikasi anak.
6. Pengaruh kekurangharmonisan hubungan dalam keluarga.
7. Pengaruh tontonan aksi-aksi kekerasan dari media TV.
8. Pengaruh pergaulan yang buruk
C. Cara Mengatasi Perilaku Kasar dan Melawan (Agresif)
a. Sebagai teman :
1. Jika melihat teman secara langsung bersikap agresif terhadap teman yang lain, berusahalah untuk mencegahnya dengan tanpa menyinggung perasaannya.
2. Kita harus memperlakukan teman dengan sabar, kita tidak boleh bersikap agresif menghadapi teman yang suka agresif.
3. Dengarkan suara hati teman.
4. Kita bisa memberikan perhatian dan komitmen yang jelas dalam pertemanan.
5. Ciptakan suasana kebersamaan dalam persahabatan.
b. Sebagai pribadi yang agresif :
1. Lebih bisa berfikir panjang sebelum berkata – kata, ataupun sebelum berbuat sesuatu. Apakah akan perkataan atau perbuatan yang akan dilakukan akan menyekiti orang lain atau tidak.
2. Sebaiknya bisa mengontrol emosi diri.
3. Menghargai kepentingan orang lain.
4. Berfikir positif thinking dengan berbagai macam keadaan yang sedang menimpa.
5. Pantang menyerah dan selalu memiliki sikap menerima keadaan apapun dengan lapang dada. Karena biasanya agresi terjadi karena ada rasa frustasi terhadap sesuatu.
6. Selalu berfikir optimis dan produktif.
7. Alihkan terhadap kegiatan yang menghibur.
D. Mengatasi Perilaku Agresif
Agresi yang berlebihan banyak didapatkan pada anak yang orangtuanya bersikap terlalu memanjakan, terlalu melindungi, atau terlalu bersifat kuasa serta penolakan orangtua. Misalnya, hukuman badani seperti memukul dan kurang berhasilnya memberikan pengertian kepada anak mengenai tingkah laku yang tidak dapat dibenarkan. Selama pertumbuhannya anak-anak itu memiliki kecenderungan yang wajar untuk berusaha menekan watak agresif mereka sedikit demi sedikit, kecuali bila pihak orangtua mereka justru mendorongnya ke arah itu. Dalam hal ini jelaslah bahwa sedikit sekali hubungan antara alat mainan dengan pengaruhnya terhadap perkembangan watak yang agresif pada kepribadian seorang anak.
1. PELAMPIASAN EMOSI
Menurut Dra. Ny. Y. Singgih D. Gunarsa, psikolog, suatu bentuk lain dari pelampiasan emosi anak, terlihat dalam penyaluran agresi. Anak kelihatan agresif sekali dalam menghadapi “kekangan”. Tujuan utama dari pada agresi yang berlebih-lebihan adalah penguasaan situasi, mengatasi suatu rintangan atau halangan yang dihadapinya atau merusak suatu benda. Agresi tersebut dapat disalurkan melalui perbuatan, akan tetapi bila tingkah laku tersebut dihalangi, maka akan tersalur melalui perbuatan, akan tersalur melalui kata-kata dan pikiran.
Ada dua macam sebab yang mendasari tingkah laku agresif pada anak. Pertama, tingkah laku agresif yang dilakukan untuk menyerang atau melawan orang lain. Macam tingkah laku agresif ini biasanya ditandai dengan kemarahan atau keinginan untuk menyakiti orang lain. Kedua, tingkah laku agresif yang dilakukan sebagai sikap mempertahankan diri terhadap serangan dari luar.
2. HUKUMAN BADAN
Biasanya cara yang paling cepat dan tepat untuk mengatasi sikap agresif anak adalah dengan hukuman. Tetapi dari hasil analisa penelitian yang tak pernah berhenti, mereka berpendapat, bahwa disiplin yang diterapkan orangtua untuk mencegah sikap agresif, yang biasanya berupa hukuman badan, justru malah mengorbankannya. Pada kenyataannya anak yang terlalu sering menerima hukuman badan, sikap agresifnya cenderung semakin menjadi-jadi.
Menanggapi sikap agresif anak-anak, kita perlu melacak dua macam jalan keluarnya. Pertama, bagaimana mengurangi sikap agresifnya pada saat ini. Sedangkan jalan keluar yang lebih berjangka panjang adalah mencegah timbulnya sikap agresif dimasa yang akan datang. Apapun yang dipilih untuk menyalurkan dorongan agresifnya ini, tetap berarti bahwa dorongan agresif itu sendiri harus disalurkan dengan sebaik-baiknya. Perbuatan orangtua untuk setiap kali menyuruh diam anak-anak yang sedang bertengkar, atau menghukum anak setiap kali habis berkelahi dengan temannya adalah kurang bijaksana.
Sebagai kesimpulan, jelaslah, bahwa agresi itu sebenarnya sangat perlu untuk kelangsungan hidup dan penjagaan atau penyelamatan diri sendiri. Dan juga mendorong seseorang untuk tumbuh dan berkembang. Namun juga perlu diingat, agresi ini akan bersifat destruktif jika digunakan untuk kebencian, merampas harta orang lain, menyerang orang lain atau diri sendiri.
Lebih lanjut Hidayani menjelaskan bahwa perilaku agresif dapat ditampilkan oleh anak individu (agresif tipe soliter) maupun secara berkelompok ( agresif tipe group). Pada perilaku agresif yang dilakukan berkelompok/grup, biasanya ada anak yang merupakan ketua kelompok dan memerintahkan teman-teman sekelompoknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. Pada tipe ini, biasanya anak-anak yang bergabung mempunyai masalah yang hampir sama lalu memberikan kesampatan yang sama lalu memberikan kesampatan pada salah satu anak untuk menjadi ketua kelompok. Pada tipe ini sering terjadi perilaku agresif dalam bentuk fisik.
Sedang pada tipe soliter, perilaku agresif dapat berupa fisik maupun verbal, biasanya dimulai oleh seseorang yang bukan bagian dari tindakan kelompok. Tidak ada usaha si anak untuk menyembunyikan perilaku tersebut. Anak tipe ini sering kali menjauhkan diri dari orang lain sehingga lingkungan juga menolak keberadaannya. Tidak jarang anak-anak ini, baik secara individual atau berkelompok, membuat anak lain mengikuti kemauan mereka dengan cara-cara yang agresif. Akibatnya, ada anak atau sekelompok anak yang menjadi korban dari anak lain yang berperilaku agresif.

Referensi :
http://eko-ss.blogspot.com/2009/07/agresi.html
http://www.scumdoctor.com/Indonesian/parenting/child-psychology/Child-Psychology-And-Aggresive-Behaviour.html
http://asiaaudiovisualexc09nitarusnitasari.wordpress.com/mengatasi-tingkah-laku-agresif-pada-anak/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s